Geger Pornografi

September 24, 2008

”Mom, kita harus singkirkan tradisi komunitas kita yang selalu semrawut dalam berpakaian. Itu cara celamat dari aturan undang-undang pornografi,” kata Dewasrani, anak lanang Durga yang baru pulang dari Kahyangan Jonggring Salaka. Kahyangan, tempat persemayaman para dewa yang berkuasa, kini sedang punya gawe. Yaitu, penyusunan undang-undang pornografi. Undang-undang itu terkesan memaksakan kehendak tanpa rembugan dengan khalayak wayang.

Durga hanya tersenyum mendengarnya. Ya, Dewasrani sedang panik. Sebab, anak buah ibunya, demit, setan, gendruwo, suka berdandan sekenanya. Ambil contoh, Non Rara Gembluk yang tubuhnya terlalu seksi. Pakai apa saja tetap hot. Ada lagi Om Buta Rambut Geni. Penutup auratnya minim sekali. Sebab, api di kepalanya selalu membakar apa saya yang melekat di tubuh. Dewasrani mengusulkan agar dua orang itu dijadikan uji coba sebelum undang-undang pornografi disahkan. Mereka harus diuji tes kesopanan pada Prof Kamajaya, si jago etika.

***

Setelah tempuh perjalanan darat 5 jam nonstop naik bus, keduanya sampai di kediaman Prof Kamajaya. Rara Gembluk dan Buta Rambut Geni lalu copot alas kaki masing-masing. Dengan jalan pake dengkul, mereka mendekati Kamajaya yang sedang meditasi disebuah altar suci. ”Tuan Kamajaya, kami siap menerima pelajaran,” ujar Rara Gembluk dan Buta Rambut Geni kompak.

”Eh, sang Durga kirim ente ke sini ya? Apa inyong mampu ajari sira?” kata Prof Kamajaya merendah. Mereka kompak anggukkan kepala. Yang pasti, Prof Kamajaya berpesan agar dua orang itu tak umbar syahwat. Untuk menjadi tokoh yang sopan, mereka harus menjauhi itu semua. Wejangan terakhir Kamajaya, kedua kroni Durga itu harus lewat ke salah satu negara, Negeri Taat atau Negeri Sopan. Masing-masing memilih satu negara. Saat lewat, mereka tidak boleh mengeluh. Dua cecunguk Durga itu setuju. Dengan penuh keyakinan, mereka memasuki negeri yang harus dituju.

Sementara di depan laptopnya, Prof Kamajaya serius mengirim perintah ke Negeri Taat. Beri pelajaran keras, tulis Kamajaya. Tombol enter disentuh, dan weettt.. Buta Rambut Geni plonga-plongo di daerah gersang. Lepas pandang, yang terlihat adalah barisan orang-orang yang bekerja dengan pakaian rapi. Namun, banyak penjaga dengan teriakan perintah untuk tetap santun. Di tangah mereka ada cambuk untuk menghukum orang-orang yang melanggar aturan.

”Daerah orang taat seperti ini kok malah banyak orang berwajah sangar? Jadi, ini kekuasaan penegak ketaatan?” Buta Rambut Geni merinding setelah takon sana-sini.

Saatnya Buta Rambut Geni tunjukkan kesopanan. Dia ubah tubuhnya berpakaian dari bahan alumunium rapat. Hanya matanya yang terlihat. Tapi ia lupa, betis sampai ke paha dibiarkan tak tertutup.

Salah seorang anggota pemegang cambuk memukul punggung Buta Rambut Geni dan menyeretnya ke daerah sepi. Rambut Geni nurut saat digelandang dan diinterogasi. ”Tuh pahamu memancing berahi,” kata seorang penjaga. Dengan sigap, penjaga menganti pakaian Buta Rambut Geni dengan bahan besi plus gembok yang menutupi seluruh tubuh. Dia lantas terlihat seperti seonggok besi yang berdiri kukuh. Buta Rambut Geni jadi sopan karena intimidasi.

***

Di tempat lain, Non Rara Gembluk melangkah ke Negara Sopan. Anehnya, di pusat kota banyak mobil didesain jadi penjara. Dan seenaknya saja, pihak aparat menangkapi orang-orang yang dianggap tubuhnya memancing berahi. Wah, ini proyek baru untuk aparat, pikir Rara Gembluk.

Takdinyana, dia lalu berkenalan dengan seorang mantan tahanan, Dewi Wilutama the most beautiful woman. Menurut cerita, dia diciduk setelah joging. Gara-garanya, saat lari pagi, mendadak ada badai besar. Pakaiannya terbawa angin. Nyaris telanjang, dia berusaha menutupi tubuhnya dengan koran. Namun, ketika berusaha pulang, sebuah mobil tahanan menangkapnya dan menuduh umbar syahwat di ruang publik.

Rara Gembluk melongo mendengarnya. ”Aku sudah beri penjelasan. Namun, mereka bilang, peraturan tetap peraturan,” kata Wilutama dengan muka murung.Dia lantas bergegas pergi.

Rara Gembluk memikirkan peraturan yang tak detail dan punya tafsir banyak itu. Peraturan itu, pikir Rara Gembluk, akan menghancurkan kehidupan bermasyarakat. Karena jalan sambil melamun, Non Rara Gembluk tak konsentrasi. Sreett, sebuah dauh pisang ia injak. Jatuhlah dia. Tubuhnya lecet. Namun, yang membuat dia takut adalah robeknya celana jeans yang dia pakai. Celana itu suwek di bagian bokong sampai kulit pahanya terlihat. Pakaian bagian atas pun robek modal-madul. Ia segera tengok kanan-kiri, takut ada petugas. Aku harus kabur dari negeri yang menakutkan ini, batinnya.

Dia lantas SMS Mama Durga. Mom, saya tak sanggup ikuti test dari Kamajaya. Saya mau pulang! Dewi Durga yang membacanya cuma bisa elus dada. Belum sempat menerima balasan SMS, sebuah suara menggelegar menegur Non Rara Gembluk.

”Hai perempuan, berhentii!” ujar seorang aparat hukum. Plaak, tamparan keras menghunjam pipi Rara Gembluk yang tak tinggal diam. Dia mencoba melawan. Tiba-tiba, wuss, dari belakang penjaga lain melempar jubah, meringkus tubuh Rara Gembluk. Namun, para lelaki palingkan wajah saat pakaian jubah membungkus Rara Gembluk yang justru terlihat semakin cantik. Tubuh seksinya kian memikat. Cowok penegak hukum malah kesengsem menatap wajah Jeng Rara. ”Maaf, I want to be your friend,” kata Rara. Cowok-cowok itu mulai belajar bahwa mencintai sesama lebih baik daripada main tangkap.

Namun, alarm kota berbunyi keras, tunjukkan keadaan gawat, tanda peraturan kesopanan runtuh. Prof Kamajaya mendadak muncul dan perintahkan untuk tangkap Rara Gembluk. Dia harus dididik sangat keras dengan ancaman kurungan penjara satu tahun. Tuduhannya adalah merayu petugas.

***

Setahun kemudian, kemeriahan tampak di rumah Durga. Di rumah itu sedang ada pesta menyambut kepulangan Rambut Geni dan Rara Gembluk. Kamajaya dengan bangka tunjukkan kepatuhan dan kesopanan Rara Gembluk dan Rambut Geni yang sempurna.

Durga menatap tajam kedua anak buahnya. Dia tahu, kepatuhan karena ancaman hukuman yang ditorehkan undang-undang hanya memunculkan ketakutan. Dan kita akan sulit memahami nilai yang justru harus lahir dari kesadaran kita sendiri untuk menjadi sopan. Toh, seluruh ajaran di dunia menjamin tidak ada paksaan dalam menghayatinya.

Sumber: Jawa Pos

Entry Filed under: Tulisan. Tags: , , .

3 Comments Add your own

  • 1. dedik81  |  December 16, 2008 at 12:44 pm

    k4mu t3rny4t4 5uk4 ju94 54m4 nul!5, 54mp4! m4t4 c4nut2x , juduLny4 OK, t4p! !5!ny4 kur4ng y4hUd.
    j4ng4n p3rn4h nuL!5 k0nt3n XXX nt4r k3n4 UU4PP.
    6uk4nny4 k3r!ng4t4n t4p! t3rt4w4…………………

  • 2. ingsun  |  May 29, 2009 at 3:29 am

    walah-walah kok jik ngurusi bab ngono ae, terus nek wis ketemu arep dikapakke

  • 3. dobleh  |  May 29, 2009 at 3:33 am

    Masih penasaran tah masyarakat SMA I Puri Mojokerto setelah kebobolan siswinya yang ratu Mojokerto sekaligus ditelanjangi di Internet menyebar seantero dunia …. dan akhirnya sianak tersebut khan pindah ke SMA 18 Surabaya, koq masih ada saja komunitas yang ngrembug masalah ini, all is over

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pagar Depan

Teringat satu kalimat yang mengatakan "kenangan itu seperti pisau, bisa melukaimu" namun kita disini bukan untuk mengiris lagi bekas luka yang ada. Banyak, banyak sekali guratan indah tertoreh dengan baik di Jl. Irian. Waktu itu. Setapak terakhir berangsur memasuki tempat ini dan tak ada yang lebih pantas untuk diucapkan selain "Selamat Datang Kawan Semua".

Irfan Affandi is
Irfan Affandi

Beranda

Alumnus

Artikel Baru

Komentar Terakhir

khus on Alumni 2001 – 2002
d13n on Alumni 1999 – 2000
d13n on Alumni 1999 – 2000
d13n on Ikutan nulis?
piezco on Perbaiki Wadah Kita
tegar on Daftar Siswa – Buku Alum…
ary_setiawan on Alumni 2000 – 2001
ifA on Alumni 2007 – 2008
Gede M.M or K_Mbink on Smuniker?
HADI PRAMONO on Alumni 1999 – 2000

Food and Beverage Photographer

Food and Beverage Photographer

Kategori

Berita Guyon Legendary Musician Melodic death metal Music Music Events News OSIS (Ojo Senggol Iki SMA Siji) Outdoor Photography Seni Stories Tulisan Uncategorized

Kalender

September 2008
M T W T F S S
« May   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Useful Links

Kerabat

Mampir di Milis

Archives