The Vengeance Story

April 14, 2009

Siang itu dia nongkrong di gerbang parkir dengan seragam abu-abunya. Disela jemarinya terjepit gudang garam eceran yang dia belinya di toko Pak Win sebelah sekolah. Sliwar-sliwer kendaran dan siswa-siswa yang keluar masuk mengambil motor tak menyita perhatiannya sedikitpun. Beberapa dari mereka menggeber keras motornya kemudian melesat kencang keluar dari tempat parkiran, dia hanya melirik kemudian menghembus panjang isapan rokoknya. Satu persatu meninggalkan sekolah dan beranjak pulang. Teman-teman yang ditunggunya tak juga nampak keluar dari sekolah itu, tapi dia tak gelisah. Disela keramaian dua orang dari sekolah sebelah melintas dan berhenti tepat didepannya karena seseorang memanggil. Suara itu berasal dari satu orang lagi yang mendatangi mereka kemudian bercengkrama. Panjang batang rokok itu dia hisap sambil memperhatikan ketiga siswa itu bercengkrama sampai akhirnya tinggal satu kali hisap mendadak matanya membulat, darahnya mengalir deras ke kepala dan dia gemetar tak karuan. Dia baru menyadari bahwa satu diantaranya ternyata adalah Damar, siswa SMA lain yang telah lama dia cari. Dalam hati dia berkata, “Ya Tuhan…kenapa harus sekarang di tempat ini Kau pertemukan kami???” Dia hisap dalam sekali rokok itu seraya beranjak dan melemparnya sembarangan kemudian dalam jarak beberapa meter dia berlari kearah tiga siswa itu. Dengan tangan terkepal dia teriak, “Damar!!!” Kontan siswa itu menoleh dengan kaget dan belum sempat menyadari siapa yang memanggilnya hantaman keras mendarat di pelipisnya, “Cpakkk!!!”. Damar terjungkal dari atas motor, 2 yang lain berusaha menyadari apa yang sedang terjadi dan mencoba melerai tapi siswa itu terlampau marah dan brutal. Diangkatnya badan Damar yang jauh lebih besar darinya dan kembali dia hujamkan pukulan2nya. Siswa malang itu hanya bisa berucap “Sori…sori…sori…” sampai semua orang berlarian dan melerai perkelahian itu. Seorang sopir taksi yang kebetulan mangkal disitu dengan spontan merangkul siswa yang marah itu dan menghentikannya. Dua siswa itu, sopir taksi itu dan semua siswa hanya bisa berdiri dan memandang siswa yang marah itu dengan bermacam pikiran seolah mereka bertanya tanya kesalahan apa yang telah dilakukan Damar terhadapnya.

Based on true story – Jl. Irian sometime in 1997

Entry Filed under: Tulisan. .

3 Comments Add your own

  • 1. dedix  |  April 27, 2009 at 3:19 pm

    shit!! this is what I mean,,,d’brutality of smuniker’s(maybe)…

  • 2. Pulsa  |  May 5, 2009 at 12:32 pm

    Hhmmm…. Emangnya si Damar salah apa? Ceritanya dilanjutin dong …..

  • 3. Ida fatmawati  |  July 26, 2009 at 12:27 pm

    Mana lanjutan na?

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pagar Depan

Teringat satu kalimat yang mengatakan "kenangan itu seperti pisau, bisa melukaimu" namun kita disini bukan untuk mengiris lagi bekas luka yang ada. Banyak, banyak sekali guratan indah tertoreh dengan baik di Jl. Irian. Waktu itu. Setapak terakhir berangsur memasuki tempat ini dan tak ada yang lebih pantas untuk diucapkan selain "Selamat Datang Kawan Semua".

Irfan Affandi is
Irfan Affandi

Beranda

Alumnus

Artikel Baru

Komentar Terakhir

khus on Alumni 2001 – 2002
d13n on Alumni 1999 – 2000
d13n on Alumni 1999 – 2000
d13n on Ikutan nulis?
piezco on Perbaiki Wadah Kita
tegar on Daftar Siswa – Buku Alum…
ary_setiawan on Alumni 2000 – 2001
ifA on Alumni 2007 – 2008
Gede M.M or K_Mbink on Smuniker?
HADI PRAMONO on Alumni 1999 – 2000

Food and Beverage Photographer

Food and Beverage Photographer

Kategori

Berita Guyon Legendary Musician Melodic death metal Music Music Events News OSIS (Ojo Senggol Iki SMA Siji) Outdoor Photography Seni Stories Tulisan Uncategorized

Kalender

April 2009
M T W T F S S
« Feb   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Useful Links

Kerabat

Mampir di Milis

Archives